Oleh : Akmal MR
Kampung kita kembali ditikam celaka
Teriakan kemerdekaan mangamuk
apakah kita meski diam
melihat darah terus mengalir?
Pucuk bunga itu meski kita jaga
jangan biarkan ia layu selum mekar
tak seperti awan yang terus berlari
tak peduli gunung deselimuti beku
angin ricuh
ini kampung kita
catatan harian kematian perempuan malang
apakah kita harus tertawa melihat
bulan diadu domba?
akan kutulis seribu sajak
agar hati ini tak lagi dikepung nista
untukku
jiwaku
peremuanku
bundaku
waktuku
hariku
tanahku
dan
kampungku yang terus bersembunyi
dalam ingatan sepi
Lam U, Agustus 2007
Jumat, 05 Oktober 2007
Mencari Arti Demokrasi di Negeri Ganjil
Oleh : Akmal MR
Aku kembali dililit jerami kusam
mataku lenyap dalam gelap yang begitu suram
aku kini mengembara dalam gumpalan asa
yang membuat tubuhku kaku
Aku tercengang melihat api itu
sepertinya ia ingin membakar seluruh tubuhku
apakah aku bermimpi?
dimanakah aku kini?
Kuteriakkan pada malam
bahwa aku telah dewasa
pikiranku tak lagi berlumut sepi
namun, malam tak menghiraukan kata-kataku
Apakah tubuhku yang kecil ini membuat mereka murung
melihatku?
atau mulutku yang tak bisa bersuara?
tapi, sepertinya aku tak sekecil
awan yang membungkus matahari senja di Lembah Direu
Aku ingin terus berteriak bahwa aku telah dewasa
biar pun malam tak mendengarku
tapi, aku akan terus mencoba meyakini bulan
bahwa aku bisa berbuat
untuk tanahku yang semakin renta
Tubuhku tlah lepas dari lilitan jerami,
malam mencoba menghiburku dalam cahaya bulannya
yang damai dan sunyi
tapi disana…
kulihat bintang telah menyisakan satu makam
bagiku
dan
jiwaku
untuk lelap
Lam U, 23 Agustus 2007
Aku kembali dililit jerami kusam
mataku lenyap dalam gelap yang begitu suram
aku kini mengembara dalam gumpalan asa
yang membuat tubuhku kaku
Aku tercengang melihat api itu
sepertinya ia ingin membakar seluruh tubuhku
apakah aku bermimpi?
dimanakah aku kini?
Kuteriakkan pada malam
bahwa aku telah dewasa
pikiranku tak lagi berlumut sepi
namun, malam tak menghiraukan kata-kataku
Apakah tubuhku yang kecil ini membuat mereka murung
melihatku?
atau mulutku yang tak bisa bersuara?
tapi, sepertinya aku tak sekecil
awan yang membungkus matahari senja di Lembah Direu
Aku ingin terus berteriak bahwa aku telah dewasa
biar pun malam tak mendengarku
tapi, aku akan terus mencoba meyakini bulan
bahwa aku bisa berbuat
untuk tanahku yang semakin renta
Tubuhku tlah lepas dari lilitan jerami,
malam mencoba menghiburku dalam cahaya bulannya
yang damai dan sunyi
tapi disana…
kulihat bintang telah menyisakan satu makam
bagiku
dan
jiwaku
untuk lelap
Lam U, 23 Agustus 2007
Surat Dari Kampung Sembilan
Oleh : Akmal MR
Tak ingin kau basuh wajah di tanah ini, anakku?
tujuh luka telah tertancap pada hati yang tersayat luka.
Ini tubuh telah beku
diburu rindu dan sendu kampung yang murung.
Tidakkah kau ingin pulang, anakku?
menyaksikan sawah-sawah kita merah dibantai api kuasa.
Ketakutan menutup mata,
kata menjadi beku
sungguh luka menjadi cerita malam.
Senja telah lelah menari diujung awan
ini saatnya menunggu malam yang tepasung di dalam labirin berdebu.
maka, digelap itu akan terdengar suara kematian yang berbisik dari ujung bunga yang gugur.
Tidakkah kau rindu pada kampungmu, anakku?
sungguh takku sertakan kutukan pada surat putih ini.
jika kau tak juga pulang,
tidak juga kuharu dan luruh mengingat lankahmu yang semakin jauh.
namun,
lihatlah pucuk langit disana
akan hitam
dan
tak ada lagi yang bisa mendiamkan malam dikampung kita.
kampung tujuh yang tercatat pilu.
Lam U, 14 Agustus 2007
Tak ingin kau basuh wajah di tanah ini, anakku?
tujuh luka telah tertancap pada hati yang tersayat luka.
Ini tubuh telah beku
diburu rindu dan sendu kampung yang murung.
Tidakkah kau ingin pulang, anakku?
menyaksikan sawah-sawah kita merah dibantai api kuasa.
Ketakutan menutup mata,
kata menjadi beku
sungguh luka menjadi cerita malam.
Senja telah lelah menari diujung awan
ini saatnya menunggu malam yang tepasung di dalam labirin berdebu.
maka, digelap itu akan terdengar suara kematian yang berbisik dari ujung bunga yang gugur.
Tidakkah kau rindu pada kampungmu, anakku?
sungguh takku sertakan kutukan pada surat putih ini.
jika kau tak juga pulang,
tidak juga kuharu dan luruh mengingat lankahmu yang semakin jauh.
namun,
lihatlah pucuk langit disana
akan hitam
dan
tak ada lagi yang bisa mendiamkan malam dikampung kita.
kampung tujuh yang tercatat pilu.
Lam U, 14 Agustus 2007
Sahabat
Akmal MR
Senja tela buram, kawan
Namun sisa cahaya masih menanam cerita
Pada setiap nyayian pagi yang gamang
Pada hati yang tersayat sajak kerinduan
Kampung kita telah senyap
Melihat awan tersenyum girang
Namun, sesekali keruh
Tak berdaya menahan ombak kerinduan
Pada setiap bait kematian
Pada ingatan tentang riwayat kebisuan
Pasir-pasir itu mencoba menelan asa
Saat lara merajam kota renta
Ini kampung kita, kawan
Kampung kemuliaan
Kampung mencari senyum pada daun
Di atas makam kenistaan
Lam U, 7 Juli 2007
BULAN
Akmal MR
Binatang malam terdiam
Menyaksikan purnama enggan bersinar
Entah apa yang terjadi pada angin kelam
Lalui malam tanpa binar cahaya nanar
o, kau yang disana bersembunyi dalam pelukan awan
rebahkan cahaya itu dalam pelukan hati
betapa malu tanah melihat bayangmu
tanpa binar mata yang lirih
kau telah takluk oleh kuasa
umpama suara kelam
dan sunyi senyap
Lam U, 7 Juli 2007
Mengenal Hamba
Oleh : Akmal MR
Senja ingin menghilang
bersembunyi di balik laut.
Digenangi kebisuan lara udara masam.
Kemudian menjauh dari dekapan awan hitam
memungkinkannya lebih cepat musnah.
Sepuluh baris puisi itu menancap pada cermin merah,
Seraya menghitung kejora musnahkan cahaya bulan
Hati ini sepertinya lumpuh
Oleh debu yang tersangkut pada dinding langit biru
Rintik hujan itu menyuarakan kerinduan
Pada kumbang lari dari mawar
Usai mendengar kabar tentang yatim
yang digenangi airmata lara
Anak itu kelak dewasa,
Kemudian bunga itu mekar
Di dekat batu nisan bapaknya
Seperti malam menelan senja
Mencoba membunuh langit terang
Seekor kumbang hinggap di pucuk mawar
Ia tidak mengisap madu
Tapi hanya singah
Untuk mengusap matanya
Anak itu nantinya juga renta
serupa bapaknya yang mencatat
akhir dari zaman kehidupan
lalu,
di atasnya juga akan tertancap bunga
disamping
batu bertuliskan
tiga baris tentang dirinya
Lam U, 8 Mai 2007
Senja ingin menghilang
bersembunyi di balik laut.
Digenangi kebisuan lara udara masam.
Kemudian menjauh dari dekapan awan hitam
memungkinkannya lebih cepat musnah.
Sepuluh baris puisi itu menancap pada cermin merah,
Seraya menghitung kejora musnahkan cahaya bulan
Hati ini sepertinya lumpuh
Oleh debu yang tersangkut pada dinding langit biru
Rintik hujan itu menyuarakan kerinduan
Pada kumbang lari dari mawar
Usai mendengar kabar tentang yatim
yang digenangi airmata lara
Anak itu kelak dewasa,
Kemudian bunga itu mekar
Di dekat batu nisan bapaknya
Seperti malam menelan senja
Mencoba membunuh langit terang
Seekor kumbang hinggap di pucuk mawar
Ia tidak mengisap madu
Tapi hanya singah
Untuk mengusap matanya
Anak itu nantinya juga renta
serupa bapaknya yang mencatat
akhir dari zaman kehidupan
lalu,
di atasnya juga akan tertancap bunga
disamping
batu bertuliskan
tiga baris tentang dirinya
Lam U, 8 Mai 2007
Surat Terakhir Untuk Sahabatku
Oleh: Akmal MR
Alm. Maulidan Syahputra.
Pada siapa harus kuceritakan tentang impian kita,
Kau telah menutup hari dan pergi dari purnama.
Mungkinkah ini awal dari keterpurukanku
Mengenal sebuah petaka?
Dengan siapa aku akan berdiskusi tentang
Kegamangan kita terhadap budaya tanah kita
Tentang tulisan yang tak pernah kita selesaikan
Tentang teka-teki hikyat yang menjadi rinduku.
Menjadi cibiran sunyi bagi semua
Nafasmu telah beranjak dari tubuh,
Meninggalkan malam yang geming
Menanti janjiNya
yang menjadi misteri
Sepertinya baru kemarin aku mendengar suaramu
membawakan hikayat Gampong Gleeh yang kau buat
bersamaku di ruangan sepi
kau tahu…
Suara itu masih disini
Menjahit rindu yang begitu perih.
Mengapa kau tak memberiku tanda?
Apakah kau bosan dengan sajak-sajak yang kubuat?
Atau kau tidak mau membaca suratku untuk ibu?
Sahabatku,
ingin kutulis seribu sajak untukmu.
Tapi ku tahu itu takkan pernah cukup membunuh rindu ini
Aku benar-benar tak mampu berbuat apa-apa lagi
Dengan airmata ini inginku tenggelamkan sisa ingat
Tentang canda dan tawamu.
Dengan airmata ini aku ingin bangkit
Agar kau tak lagi menertawakan kelemahanku.
Maafkan aku yang tidak sempat mengenggam tanganmu
Yang lemah itu,
Maafkan aku yang tidak sempat menamanimu bicara
Saat kau terbaring disana,
Kenapa kau diam disaat aku ingin berbicara denganmu?
Aku pernah bermimpi menjemputmu dari tidurmu yang lelap
Ku bawa engkau menapaki keindahan kampus kita ini
Disaat kita menunggu adik-adik mahasiswa baru
Dan memberikan mereka satu canda yang indah
kini mimpi itu telah punah oleh kabar yang kuterima dari
Telpon genggamku.
hari ini gitar dan suaraku tak mampu menumpahkan apapun
hari ini tanganku terdiam dan tak mampu merangkai satu sajakpun
Sahabatku,
biarkan jiwamu tentram disana.
Dalam doa ini kutitipkan salam
Agar kau tenang dan damai dalam keabadian disisiNya.
Tak ada yang bisa menerka pasti keinginan tuhan
Namun, hari ini bulan tak kunjung tiba,
langit begitu tenang menghentikan angin malam
memohon doa agar kau beristirahat dengan tenang.
Abu,
Akan kuselesaikan kembali sajak-sajakku yang pernah kau cela
Akan kuselesaikan kembali cerita-cerita itu
agar kau bisa tersenyum
dan pernah mengenal aku sebagai kawanmu.
kampung kita tetap akan tersenyum,
Seperti halnya matahari yang tidak pernah lelah dijemput senja.
Jika kau mendengar kata-kata ini,
Tersenyumlah sembari menjabat tanganku
Yang selalu menegadah kepadaNya
Dan merangkul satu doa
Hanya untukmu
Mari mengheningkan cipta,
Kepada jiwa yang telah terdiam
Kepada kawan yang telah kembali ke muara abadi
Tempat manusia menemukan rahasia tuhan.
Lam U, 5 September 2007
Langgan:
Entri (Atom)